Warga Muara Badak Demo Diatas Perairan Laut
kukarnews.id, MUARA BADAK - Sejumlah warga yang tergabung dalam Forum Gerakan Pemuda Masyarakat Pangempang (GPMP) Desa Tanjung Limau menggelar aksi demo di atas perairan laut Muara Badak menggunakan belasan kapal.
Aksi demo di atas laut ini menyuarakan bahwa mereka menolak keberadaan PT. Pelindo yang akan beroperasi dan mengambil alih pekerjaan masyarakat, yakni sebagai tenaga pandu untuk kapal ponton batubara yang melintas di kawasan perairan tersebut.
Mereka menilai pekerjaan ini sejak puluhan tahun sudah dilakukan secara turun temurun dan melibatkan banyak warga setempat. Dari pekerjaan tersebut diperoleh pendapatan dan berdampak peningkatan ekonomi masyarakat sekitar.
“ Aksi hari karena adanya PT Pelindo akan masuk, kami menolak,” ucap Ketua Forum GPMP Sudirman. Minggu (1/8/2021).
Dijelaskan bahwa sejauh ini, sejak puluhan tahun tidak ada masalah dalam kegiatan pandu alam ini. Adanya pertemuan dengan pihak Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) dan menunjuk langsung PT. Pelindo untuk mengambil alih kegiatan masyarakat.
Untuk itu pihaknya juga tidak ada tawar menawar menolak keputusan ini. Pihaknya siap jika memang ada pembinaan masyarakat yang lebih baik dalam kegiatan ini. Jika harus ada pembayaran pajak, maka mereka siap membayar sesuai dengan ketentuan.
“ Justru itu siap kami siap dibina, ini daerah kami, kami putra daerah sini, masa orang luar menikmati kita hanya jadi penonton,” sebut Sudirman.
Sementara itu Alimin tokoh masyarakat setempat menyebutkan bahwa masyarakat sudah membuktikan, disisi positifnya masyarakat berharap agar kegiatan ini bisa tetap dikerjakan dan menikmati hasilnya untuk perbaikan perekomomian.
“Tentunya kami bahwa menolak keras dengan adanya PT Pelindo yang mengambil alih pekerjaan, atas dasar KUPP Tanjung Santan, menunjuk salah satu PT Pelindo mengambil merebut kegiatan masyarakat,” ucapnya.
Sementara itu Nur salah satu ibu rumah tangga yang juga turut serta melakukan aksi demo menyebutkan bahwa jika pekerjaan ini diambil alih maka akan kondisi ekonominya. Sebab suaminya juga bekerja sebagai pandu alam yang dengan ini bisa menutupi kebutuhan hidup keluarganya. “Dapur bisa-bisa enggak berasap lagi karena itu penghasilan hari- hari menutup kebutuhan hidup kami,” katanya.
Pihaknya berharap aksi penyampaian suara masyarakat ini bisa didengar seluruh pihak, bahwa pihaknya juga ingin pekerjaan yang juga menjadi mata pencaharian warga setempat itu bisa tetap mereka jalankan.
Sejauh ini selama mereka melakukan pekerjaan pandu kapal tersebut tidak mengalami kendala, bahkan dari hasil kegiatan ini mereka mampu menyisihkan untuk membeli sarana mobil operasional yang bisa dimanfaatkan oleh warga setempat untuk kegiatan sosial seperti mengantar warga yang sakit atau berobat lainnya. (kn1)
admin