Ketua DPRD Kukar Abdul Rasid Bacakan Sejarah Berdirinya Kota Tenggarong
kukarnews.id, KUTAI KARTANEGARA - Ketua DPRD Kutai Kartanegara (Kukar), Abdul Rasid membacakan sejarah berdirinya Kota Tenggarong agenda rapat paripurna dalam Rangka Memperingati HUT Kota Tenggarong ke-241, Rabu (27/9/2023).
Sesuai dengan Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Kabupaten Kutai Nomor: THP.276/E-1/PEM-134/1972 Tanggal 28 September 1972 perihal Penentuan Tahun Berdirinya Kota Tenggarong Ibu Kota Kabupaten Kutai.
Kota Tenggarong merupakan Ibu Kota Kabupaten Kukar saat ini. Awalnya Kota Tenggarong bernama Tangga Arung, yang mulanya dikenal sejak berdirinya Kerajaan Kutai Ing Martadipura. Kerajaan Kutai Ing Martadipura adalah Kerajaan Hindu pertama di Bumi Nusantara dengan Rajanya yang bernama Kudungga.
Seiring berjalannya waktu, pada abad ke-16 saat agama Islam mulai masuk dan berkembang di Daerah Kutai semasa Pemerintahan Pangeran Aji Mahkota Mulia, perubahan mewarnai kehidupan masyarakat dan tata pemerintahan di lingkungan kerajaan Kutai Kertanegara. Pemerintahan Kutai Kartanegara yang sebelumnya disebut Kerajaan, kemudian diubah menjadi Kesultanan.
Beberapa Sultan yang berperan penting dalam pendirian Kota Tenggarong adalah Sultan Muslihuddin. Berkat usaha keras Sultan Muslihuddin membangun keraton, membuahkan hasil yang sangat menggembirakan. Sedikit demi sedikit Kota Tenggarong berubah menjadi lebih baik dan maju.
Pada saat pengalihan Pemerintahan dengan Undang-undang Nomor 27 Tahun 1959, Pemerintahan SWAPRAJA, Kesultanan Kutai Kartanegara berkurang kewenangannya dalam mengatur kehidupan masyarakatnya yang telah sekian lama dilakukan oleh kesultanan secara turun temurun.
Hal ini sekaligus secara perlahan menghilangkan budaya kesultanan dalam kehidupan masyarakat di Kutai Kartanegara. Tapi berkat kesungguhan dan tekad dari Bupati Kutai Kartanegara terdahulu yaitu Syaukani yang berupaya untuk menghidupkan kembali budaya Kesultanan di Kota Tenggarong, Kutai Kartanegara, maka Kesultanan mulai memiliki peran kembali.
Kebijakan Pemerintah Kabupaten Kukar untuk membangun kembali kelembagaan Keraton Kutai Kartanegara dengan Sultan H Aji Muhammad Salehoeddin II untuk melakukan restorasi sejarah dalam rangka mendapatkan jati diri sebagai pusat peradaban Budaya Nusantara.
Salah satu objek wisata peninggalan Kesultanan Kutai adalah bangunan keraton yang sekarang difungsikan sebagai Museum. Museum Mulawarman ini menyimpan banyak benda bersejarah yang pengelolaannya di bawah Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur.
“Tetapi banyak benda bersejarah yang asli justru tidak disimpan di Museum Mulawarman, karena sebagian tersimpan di Museum Nasional. Bahkan beberapa catatan sejarah Kutai justru tersimpan di luar negeri. Ini aman disayangkan,” jelas Rasid.
Karenanya, ia mengajak pemerintah daerah dan seluruh komponen masyarakat bersama-sama berupaya melakukan penanganan, pembinaan dan perbaikan lingkungan Keraton. “Agar kebanggaan budaya kita ini dapat ditumbuh kembangkan kembali dalam bingkai kearifan lokal daerah yang lebih kompleks dengan tajuk membangun sejarah Kutai Kartanegara Ing Martadipura,” tutupnya. (far/kn3/rhi/advdprdkukar)
admin