Kasus Pencabulan di Pesantren Jadi Luka Besar, DPRD Kukar Bentuk Tim AdHoc
kukarnews.id, KUTAI KARTANEGARA – Ketua Komisi IV DPRD Kutai Kartanegara (Kukar), Andi Faisal, menyebut kasus pencabulan yang terjadi di salah satu pesantren di Tenggarong Seberang menjadi luka besar bagi dunia pendidikan, khususnya pondok pesantren.
“Banyak pesan masuk agar DPRD Kukar ikut membantu memperbaiki marwah pesantren. Ini bukan persoalan kecil, dampaknya sangat besar bagi dunia pendidikan kita,” ujarnya.
DPRD Kukar, kata dia, langsung mengambil langkah darurat dengan turun ke pondok untuk memastikan keamanan 152 santri lainnya. “Tidak ada kata terlambat, kita pastikan seluruh santri tetap aman,” tegasnya.
Selain penanganan cepat, DPRD juga menyiapkan langkah jangka panjang. Melalui tim ad hoc, pengawasan tidak hanya difokuskan pada ponpes di Tenggarong Seberang, tetapi juga akan menyasar seluruh sekolah di Kukar, mulai dari pesantren, SMA, SMK, hingga sekolah Islam terpadu (IT).
“Semua sekolah akan kita skrining. Tidak boleh lagi ada sekolah yang eksklusif dan tertutup. Pondok harus lebih terbuka dan bisa diawasi,” lanjut Andi.
Ia menekankan DPRD tidak akan kompromi dalam urusan perlindungan anak. Seluruh proses akan dilakukan terbuka dan transparan, dengan melibatkan aparat hukum, lembaga keagamaan, tokoh masyarakat, hingga pengelola pesantren.
“Ini menyangkut masa depan generasi muda Kukar. Jangan sampai karena satu sekolah yang bermasalah, semua pesantren ikut tercoreng. Kami tegaskan, semua pihak harus bertanggung jawab,” pungkasnya. (adv/dprdkukar/kn2/rhi)
adminKN