Pemkab Kukar Terapkan Strategi Diseminasi Strategi Komunikasi Guna Percepatan Pencegahan Stunting
kukarnews.id, KUTAI KARTANEGARA - Tingginya angka stunting di Kutai Kartanegara (Kukar) merupakan masalah jangka panjang perlu mendapat penanganan maksimal. Karena itu, perubahan perilaku-perilaku kunci, harus bersifat berkelanjutan dan menetap. Perlu waktu untuk mengubah perilaku masyarakat.
"Dengan komunikasi perubahan perilaku pencegahan stunting diharapkan semua elemen mendapatkan pengayaan pemikiran, perubahan sikap dan perilaku. Menciptakan sinergitas antara masyarakat dan pemerintah. Sehingga tujuan dari komunikasi tersebut dapat tercapai secara maksimal," ucap Sekda Kukar Sunggono saat membacakan amanat tertulis Bupati Kukar Edi Damansyah dalam kegiatan Diseminasi Strategi Komunikasi Perubahan Perilaku KPP untuk Percepatan Pencegahan Stunting di Kabupaten Kutai Kartanegara, secara Virtual, Selasa (7/9/2021).
Kegiatan ini digagas Pemkab Kukar bekerjasama Tanoto Faoundation serta Yayasan Cipta Jakarta dan Kementerian Kesehatan RI. Dihadiri Kepala Bappeda Kukar Wiyono, Kadis Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Dafip Haryanto, Plt Kadis Pendidikan Slamet, Fadli akademisi Unikarta, serta sejumlah OPD terkait lainnya di Ruang Rapat Kantor Bappeda Lantai 2 baik secara offline maupun virtual.
Sunggono menambahkan stunting dan kekurangan gizi lainnya tidak hanya menyebabkan hambatan pertumbuhan fisik dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit, tetapi juga mengancam perkembangan kognitif yang akan berpengaruh pada tingkat kecerdasan dan produktivitas anak di masa dewasanya.
"Ada banyak faktor yang menyebabkannya, salah satunya karena makanan yang kurang bergizi serta sanitasi dan higienis," tambahnya.
Berdasarkan data, pada Oktober Tahun 2019, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar mencatat 2.840 anak menderita stunting, baik itu anak umur di bawah lima tahun (Balita) maupun anak berusia bawah dua tahun (Baduta). Angka ini merupakan angka tertinggi di Kalimantan Timur (Kaltim).
"Kondisi ini tentunya menjadi keresahan bagi kita, mengingat anak-anak ini kelak yang akan melanjutkan pembangunan di Kutai Kartanegara. Oleh karena itu, tugas kita membangun sumber daya manusia yang berkualitas, baik dari jasmani, rohani dan intelektualitas,"jelasnya.
Ditambahkannya juga untuk percepatan pencegahan stunting memerlukan intervensi terpadu, secara simultan dan berkelanjutan. Penyelenggaraan intervensi terpadu yang melibatkan lintas sektor dan menyasar kelompok prioritas merupakan kunci keberhasilan perbaikan gizi dan tumbuh kembang anak, serta pencegahan stunting.
Untuk itu, intervensi terpadu ini tentunya tidak saja pada lintas OPD tetapi juga masyarakat yang memiliki peran penting pada tahap identifikasi stunting. Pengetahuan masyarakat tentang apa itu stunting, food habits yang keliru, serta food taboo yang berpengaruh besar menjadi penyebab terjadinya stunting. Pola asuh gizi, pengetahuan, sikap dan perilaku makan dapat mempengaruhi pemenuhan gizi dari makanan yang dikonsumsi.
Persepsi terhadap hubungan makanan dan kesehatan bagaimana makanan yang dikonsumsi bisa membuat sehat atau malah menjadikan sakit jika porsi dan pemilihan jenisnya tidak tepat. Peran besar layanan kesehatan masyarakat dalam menyampaikan informasi tentang stunting, terkait dampak negatif, penyebab dan pencegahannya, merupakan salah satu faktor penting yang harus menjadi perhatian. "Pengetahuan dan wawasan nakes terkait stunting sangat perlu untuk ditingkatkan, sehingga kebijakan pemerintah dalam implementasi program-program pencegahan stunting mencapai sasaran," tambah Sunggono.
Upaya pencegahan stunting salah satunya dilakukan dengan strategi komunikasi perubahan perilaku. Komunikasi perubahan perilaku ditujukan untuk masalah (komunikasi) yang penting tapi tidak urgent (membutuhkan proses dan waktu untuk perubahan).
Strategi komunikasi perubahan perilaku dirasa penting untuk menjadi alternatif percepatan penurunan stunting. Penyampaian informasi atau pesan yang sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi, serta pemilihan media dan metode yang tepat sesuai sasaran, diharapkan dapat mempercepat penanganan dan penurunan stunting.
Sunggono berharap melalui kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan institusi berbasis masyarakat, peningkatan keterampilan nakes dan kader. Ketersediaan materi komunikasi. bagi kelompok sasaran dalam pendampingan petugas puskesmas dalam pelaksanaan posyandu menjadi hasil awal dalam organisasi dan masyarakat. Sedangkan partisipasi masyarakat dalam penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi bukti awal peningkatan kesadaran masyarakat terkait stunting sekaligus mampu meningkatkan kesadaran seluruh masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan stunting.
"Sehingga tercapai penurunan jumlah anak yang mengalami stunting di Kabupaten Kukar,"harapnya.
Bertindak selaku narasumber dalam kegiatan tersebut Syah Amarut Jaman Program Manejer Yayasan Cipta Jakarta, Andi Saribunga Untung Direktorat Promkes dan PM Kementerian Kesehatan RI, Hendri Tanoto Faoundation serta Kepala Dinkes Kukar dr Martina Yulianti. Acara diisi juga dengan dialog dan tanya jawab mengenai langkah-langkah percepatan pencegahan stunting di Kukar. (adv/pkom/kn1)
admin