Cegah Stunting dari Hulu, Kukar Sasar Remaja Putri dengan Tablet Tambah Darah

Cegah Stunting dari Hulu, Kukar Sasar Remaja Putri dengan Tablet Tambah Darah
ilustrasi obat penambah darah

artanegara (Kukar) dalam mencegah stunting tidak hanya menyasar bayi dan balita. Intervensi juga dilakukan jauh sebelum seorang perempuan memasuki fase kehamilan, salah satunya melalui penanganan anemia pada remaja putri.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kukar, Ismi Mufiddah, mengatakan intervensi terhadap remaja putri menjadi bagian dari strategi pencegahan stunting dari hulu. Kesehatan remaja dinilai penting karena akan berkaitan dengan kondisi kesehatan ketika kelak memasuki usia reproduksi dan menjadi ibu.

“Remaja putri juga Kita intervensi, tapi ini juga sebenarnya bukan hal baru,” kata Ismi, Jumat (25/9/2026). 

Menurutnya, Dinas Kesehatan sebelumnya telah menjalankan inovasi di tingkat Puskesmas melalui pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri. Program tersebut diarahkan untuk membantu mencegah dan menangani anemia yang masih menjadi salah satu persoalan kesehatan pada kelompok remaja.

“Kita dulu punya inovasi di Puskesmas yang pemberian tablet tambah darah untuk remaja putri,” ujarnya.

Intervensi tersebut memiliki perspektif jangka panjang. Menurut Ismi, kondisi kesehatan seorang perempuan ketika masih remaja dapat menjadi salah satu bagian penting dalam mempersiapkan kesehatan reproduksi sebelum memasuki masa pernikahan dan kehamilan.

“Karena sebenarnya kan, ibu hamil itu kalau dia masa remajanya sehat, tentunya pada saat menikah kesehatan itu dia juga siap,” jelasnya.

Karena itu, pemberian tablet tambah darah tidak ditempatkan sekadar sebagai kegiatan pemberian suplemen, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun kondisi kesehatan remaja putri sejak lebih dini.

Pelaksanaannya dilakukan secara rutin setiap minggu dengan menyasar remaja putri di lingkungan sekolah. Dinas Kesehatan memanfaatkan sekolah sebagai salah satu titik intervensi karena sasaran program dapat dijangkau secara lebih terstruktur.

Ismi menyebut sasaran intervensi mencakup remaja putri hingga usia 18 tahun atau sampai kelas III SMA sederajat. Dengan cakupan tersebut, upaya pencegahan anemia tidak berhenti pada jenjang tertentu, tetapi berlanjut sepanjang masa pendidikan remaja putri.

“Intinya remaja putri sampai usia 18, sampai kelas 3 SMA. Dia pakai sasaran sekolah,” katanya.

Pendekatan dari hulu tersebut menjadi bagian dari upaya Dinas Kesehatan Kukar memperluas perspektif pencegahan stunting. Intervensi tidak hanya dilakukan ketika persoalan pertumbuhan sudah terlihat pada anak, tetapi juga dengan mempersiapkan kesehatan calon ibu sejak masa remaja.

Dengan demikian, pencegahan stunting dibangun melalui mata rantai yang lebih panjang, mulai dari menjaga kesehatan remaja putri, mempersiapkan perempuan memasuki usia reproduksi, hingga nantinya mendukung kesehatan ibu dan anak.

“Salah satunya dengan pemberian tablet tambah darah pada remaja putri ,” pungkas Ismi. (adv/diskominfokukar/stg/zal/rhi)